Jika manusia tahu bahwa dunia ini fana, kesenangannya sedikit, kelezatannya semu dan tidak akan pernah memuaskan seseorangpun, niscaya ia akan sedikit tertawa dan banyak menangis.
Niscaya ia akan banyak memberi daripada menahan dan mengumpulkan harta, seorang mukmin laksana dipenjara, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya ”Dunia laksana penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi yang kafir”
Hendaknya seorang Muslim juga tahu bahwa kalaulah bukan karena musibah yang menimpa, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.
Oleh karena itu, sebagian orang-orang dahulu ada yang merasa gembira ketika ditimpa petaka, seperti salah seorang kita yang merasa bahagia ketika memperoleh kekayaan.
Dunia ini juga penuh dengan kepenatan, keletihan, rasa sakit, dan yang lainnya. Sehingga begitu meninggalkannya, seorang mukmin akan benar-benar beristirahat darinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Qatadah bin Rabi’ Al-Anshari R.A. Ia pernah bercerita bahwa dihadapan Rasulullah SAW, lewat sebuah jenazah, kemudian beliau berkata ”Sesungguhnya ia telah beristirahat dan diistirahatkan (ditenangkan) darinya”. Para Sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah ! Apakah yang dimaksud dengan orang yang telah beristirahat?”, Beliau menjawab ”Ialah hamba mukmin yang telah beristirahat dari keletihan dunia dan segala isinya menuju Rahmat Allah, sedang seorang pendosa, hamba-hamba yang lain, negara, pepohonan dan bintang merasa tenang dari gangguannya”.
Artinya adalah bahwa segala sesuatu yang didapatkan seorang mukmin terhadap hakikat dunia akan bisa membuatnya merasa tenang, daripada hanya sekadar tertimpa musibah, rasa gelisah atau khawatir. Karena ia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang mesti terjadi, karena itu juga adalah merupakan tebiat hidup di dunia ini.
Jika seorang hamba tahu bahwa petaka dan musibah yang sedang menimpa akan menghapus kejelekan-kejelekannya, hendaknya ia merasa gembira terlebih lagi ketika hal itu terjadi setelah terjadinya dosa. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang artinya ”Sesungguhnya Allah jika menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, ia akan menyegerakan balasannya didunia, namun jika Allah menghendaki kejelekan terhadap seorang hamba, Ia akan menahannya sampai hamba itu datang kepadanya pada hari kiamat kelak”
Jadikanlah Rasuldan orang Shaleh sebagai teladan kehidupan anda, karena mereka adalah orang yang paling banyak dan paling berat ditimpa cobaan, sedang seseorang akan diuji sesuai dengan pemahaman agamanya. Jika Allah SWT mencintai seorang hamba, Ia akan mengujinya.
Sa’ad R.A. pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Wahai Rasulullah ! Siapakah yang paling berat ujiannya?”, Beliau menjawab, ”Para Nabi, kemudian orang-orang terdekat dan seterusnya, seseorang akan diuji sesuai dengan Agamanya, jika Agamanya menjadi tiang sandaran, maka ujiannya akan semakin bertambah berat, namun jika Agama hanya sebagai budak pelengkap (lemah), maka ia akan diuji sesuai dengan agamanya, dan tidaklah petaka diturunkan terhadap seorang hamba terkecuali ia akan dibiarkan berjalan dimuka bumi dengan tanpa dosa.
Semoga bermanfaat…
Hasil Copy Paste dari buku La Tahzan Jangan bersedih, Berbahagialah. Karya Majdi Muhammad Asy-Syahawi…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar