Pernahkah kamu merasa berada dalam titik puncak emosimu?
Ketika itu akan terasa begitu banyak kelebatan memori yang begitu menyesakkan, dan pada suatu detik akan memaksa keluar dari tubuh pemiliknya sendiri, tak bisa lagi ditahan.
Aku pernah. Dan baru saja terjadi.
Aku tak tahu apa tepatnya yang membuatku menangis seperti ini, meski tanpa suara. Serasa setiap bulir air mata yang keluar ikut membawa setangkup memori-memori yang sebelumnya mengganjal. Dan ketika air mataku berhenti mengalir, aku seakan lupa apa yang telah terjadi.
Semudah itukah? Sayangnya tidak. Lupaku hanya sepersekian detik. Kemudian yang ada hanya hampa. Dalam kehampaan itu aku berfikir, seperti apa nantinya akhir permasalahanku.
Ah, aku tak mau menebaknya. Jika nanti justru yang terjadi sebaliknya, aku mungkin tidak bisa menerimanya.
Dan dengan segala kebingungan yang memenuhi otakku inilah yang membuatku memilih untuk berada disini, duduk manis didepan sebuah layar persegi tipis dan mengetikkan semua kalimat yang terlintas, keluar tanpa dilarang, meluap tanpa ditahan, mengalir tanpa jeda. Menumpahkan semua pilu yang meradang.
Kepada siapa selain kamu aku bercerita? Kerena tak lagi ada ruang tersisa untukku sekedar duduk bernaung menanti hujan reda.
Memori itu terus mengganggu. Se-mengganggu ia yang kuketikkan berulang kali tanpa memberi tahumu apa yang kumaksud dengan “memori” tersebut.
Ya, karena memang sudah tak ada lagi selain kamu, aku akan bercerita, sekedar mengurangi kadar ingin tahumu –jika iya.
Hari itu aku merasakan seseorang yang dulu dekat, bahkan sangat dekat denganku beranjak menjauh, dan terus menjauh sampai aku kesulitan menggapainya. Hingga datang seorang lain yang dengan sebegitu baiknya menghiburku, menyadarkanku, menemaniku, dan apapun itu yang karena terlalu banyaknya kurasa tak bisa kutuliskan disini.
Hari itu berlalu dan kurasa aku berhasil mendekatinya lagi, dan sekarang kita mulau merapat, menghangat, dan begini rasanya begitu bahagia. Happy ending? Belum, ini belum berakhir. Karena kemudian ‘seorang lain’ itu justru yang mulai menampakkan sikap berbeda dari ia yang biasa. Dingin.
»» READMORE...
Ketika itu akan terasa begitu banyak kelebatan memori yang begitu menyesakkan, dan pada suatu detik akan memaksa keluar dari tubuh pemiliknya sendiri, tak bisa lagi ditahan.
Aku pernah. Dan baru saja terjadi.
Aku tak tahu apa tepatnya yang membuatku menangis seperti ini, meski tanpa suara. Serasa setiap bulir air mata yang keluar ikut membawa setangkup memori-memori yang sebelumnya mengganjal. Dan ketika air mataku berhenti mengalir, aku seakan lupa apa yang telah terjadi.
Semudah itukah? Sayangnya tidak. Lupaku hanya sepersekian detik. Kemudian yang ada hanya hampa. Dalam kehampaan itu aku berfikir, seperti apa nantinya akhir permasalahanku.
Ah, aku tak mau menebaknya. Jika nanti justru yang terjadi sebaliknya, aku mungkin tidak bisa menerimanya.
Dan dengan segala kebingungan yang memenuhi otakku inilah yang membuatku memilih untuk berada disini, duduk manis didepan sebuah layar persegi tipis dan mengetikkan semua kalimat yang terlintas, keluar tanpa dilarang, meluap tanpa ditahan, mengalir tanpa jeda. Menumpahkan semua pilu yang meradang.
Kepada siapa selain kamu aku bercerita? Kerena tak lagi ada ruang tersisa untukku sekedar duduk bernaung menanti hujan reda.
Memori itu terus mengganggu. Se-mengganggu ia yang kuketikkan berulang kali tanpa memberi tahumu apa yang kumaksud dengan “memori” tersebut.
Ya, karena memang sudah tak ada lagi selain kamu, aku akan bercerita, sekedar mengurangi kadar ingin tahumu –jika iya.
Hari itu aku merasakan seseorang yang dulu dekat, bahkan sangat dekat denganku beranjak menjauh, dan terus menjauh sampai aku kesulitan menggapainya. Hingga datang seorang lain yang dengan sebegitu baiknya menghiburku, menyadarkanku, menemaniku, dan apapun itu yang karena terlalu banyaknya kurasa tak bisa kutuliskan disini.
Hari itu berlalu dan kurasa aku berhasil mendekatinya lagi, dan sekarang kita mulau merapat, menghangat, dan begini rasanya begitu bahagia. Happy ending? Belum, ini belum berakhir. Karena kemudian ‘seorang lain’ itu justru yang mulai menampakkan sikap berbeda dari ia yang biasa. Dingin.