Gemericik air yang terdengar sebelum matahari menampakkan ronanya seakan menjadi rutinitas harian telinga mungilku. Suara itu seolah sedang memperlihatkan berapa alarm semangat telah menyala di dada Ibuku. Alarm yang membuat tangannya selihai koki, terampil menyihir sayur, ikan dan daging segar menjadi hidangan lezat bagi keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang kini tak lagi lengkap setelah kepergian Abah dua tahun silam. Keluarga kecil yang kini hanya terdiri dari seorang Ibu dan empat orang anaknya. Keluarga kecil yang diberkahi dengan Ibu sekaligus ayah pengganti yang begitu luar biasa.
Luar biasa? Ya! Bahkan sesungguhnya dua kata itu belum mampu menggambarkan Ibuku. Ibuku lebih dari luar biasa. Bagaimana tidak, pernahkah kau membayangkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang bahkan tidak memiliki gaji sendiri, harus dihadapkan pada kenyataan pahit kehilangan suami sedangkan engkau memiliki kewajiban menghidupi empat orang anak yang masih haus pengetahuan?
Bahkan membayangkannya saja dapat membuatmu sesak nafas bukan?
Tapi itulah kehidupan Ibuku. Ibu yang tidak cukup untuk sekedar dideskripsikan dengan dua kata tersebut.
Namun semua keterbatasan itu bukan penghalang bagi Ibu. Meskipun ia sendiri belum pernah mengenyam bangku kuliah, namun tekadnya begitu besar untuk membawa keempat anaknya menyandang gelar sarjana, magister, atau bahkan doktor.
Meski dengan tertatih-tatih Ibu mengumpulkan sekeping demi sekeping uang untuk membayar semua harapan itu.
Aku selalu bertanya-tanya apa yang dapat kuberikan sebagai imbalan atas 18 tahun penuh kasih dan cinta yang telah Ibu rajut dalam hidupku.
Apakah itu uang?
Apakah itu benda-benda mewah?
Bukan uang dengan nominal tinggi yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku tak mampu memberikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah dapat kukecap sesuap nasi.
Bukan gemerlap perhiasan emas dan perak yang dapat kusematkan pada jarimu, kulingkarkan di lehermu, atau kulukiskan di pergelangan tangan kurusmu Ibu, bukan. Ku tak mampu membelikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah lembar rupiah itu mengisi kekosongan kantung laparku.
Bukan pakaian dari rumah mode terkemuka yang melekat di kulit orang-orang berada yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku bahkan tak mampu membawamu mencium manisnya aroma kemewahan itu.
Bukan hitam metalik mobil mewah yang dapat kuberikan padamu Ibu, sekali lagi bukan. Bahkan untuk memimpikannya saja aku malu. Terlalu banyak berkhayal! Justru itu yang akan terngiang dalam tidurku.
Dan pula bukan puisi cinta menyentuh hati yang dapat kutulis untukmu Ibu, kau sudah melihat betapa buruknya usahaku. Puisi di hari ibu beberapa tahun silam itu sudah cukup untuk tidak diciptakan penerusnya.
Lalu bagaimana aku akan membalas cintamu ibu?
Akankah cintamu hanya akan menjadi bintang yang menjagaku dari kegelapan sementara aku hanya sanggup memandangnya?
Lalu bagaimana aku akan membalas kasihmu ibu?
Akankah kasihmu hanya akan menjadi denyut yang tak bisa ku lepas satu detikpun tanpanya? Sedang aku tak mampu membalas kehidupan yang ia berikan.
Lalu bagaimana aku akan membalas tiap tetes keringat yang engkau keluarkan untuk menyambung nyawa buah hatimu, yang tiap tetes itu seakan penuh dengan harapan besar agar dapat melihat mereka menjadi orang-orang berada, orang-orang terhormat, di dunia ataupun kelak di akhirat.
Aku tak punya apa-apa Ibu, sungguh tak ada apapun yang kurasa pantas kuberikan untukmu.
Cinta yang kuberikan tak akan cukup membalas cintamu.
Kasih yang kupersembahkan tak akan cukup membalas kasihmu.
Lalu apa?
Haruskah aku menanyakannya padamu, wahai pemberi pendar kasih sepanjang masa?
Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”
»» READMORE...
Luar biasa? Ya! Bahkan sesungguhnya dua kata itu belum mampu menggambarkan Ibuku. Ibuku lebih dari luar biasa. Bagaimana tidak, pernahkah kau membayangkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang bahkan tidak memiliki gaji sendiri, harus dihadapkan pada kenyataan pahit kehilangan suami sedangkan engkau memiliki kewajiban menghidupi empat orang anak yang masih haus pengetahuan?
Bahkan membayangkannya saja dapat membuatmu sesak nafas bukan?
Tapi itulah kehidupan Ibuku. Ibu yang tidak cukup untuk sekedar dideskripsikan dengan dua kata tersebut.
Namun semua keterbatasan itu bukan penghalang bagi Ibu. Meskipun ia sendiri belum pernah mengenyam bangku kuliah, namun tekadnya begitu besar untuk membawa keempat anaknya menyandang gelar sarjana, magister, atau bahkan doktor.
Meski dengan tertatih-tatih Ibu mengumpulkan sekeping demi sekeping uang untuk membayar semua harapan itu.
Aku selalu bertanya-tanya apa yang dapat kuberikan sebagai imbalan atas 18 tahun penuh kasih dan cinta yang telah Ibu rajut dalam hidupku.
Apakah itu uang?
Apakah itu benda-benda mewah?
Bukan uang dengan nominal tinggi yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku tak mampu memberikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah dapat kukecap sesuap nasi.
Bukan gemerlap perhiasan emas dan perak yang dapat kusematkan pada jarimu, kulingkarkan di lehermu, atau kulukiskan di pergelangan tangan kurusmu Ibu, bukan. Ku tak mampu membelikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah lembar rupiah itu mengisi kekosongan kantung laparku.
Bukan pakaian dari rumah mode terkemuka yang melekat di kulit orang-orang berada yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku bahkan tak mampu membawamu mencium manisnya aroma kemewahan itu.
Bukan hitam metalik mobil mewah yang dapat kuberikan padamu Ibu, sekali lagi bukan. Bahkan untuk memimpikannya saja aku malu. Terlalu banyak berkhayal! Justru itu yang akan terngiang dalam tidurku.
Dan pula bukan puisi cinta menyentuh hati yang dapat kutulis untukmu Ibu, kau sudah melihat betapa buruknya usahaku. Puisi di hari ibu beberapa tahun silam itu sudah cukup untuk tidak diciptakan penerusnya.
Lalu bagaimana aku akan membalas cintamu ibu?
Akankah cintamu hanya akan menjadi bintang yang menjagaku dari kegelapan sementara aku hanya sanggup memandangnya?
Lalu bagaimana aku akan membalas kasihmu ibu?
Akankah kasihmu hanya akan menjadi denyut yang tak bisa ku lepas satu detikpun tanpanya? Sedang aku tak mampu membalas kehidupan yang ia berikan.
Lalu bagaimana aku akan membalas tiap tetes keringat yang engkau keluarkan untuk menyambung nyawa buah hatimu, yang tiap tetes itu seakan penuh dengan harapan besar agar dapat melihat mereka menjadi orang-orang berada, orang-orang terhormat, di dunia ataupun kelak di akhirat.
Aku tak punya apa-apa Ibu, sungguh tak ada apapun yang kurasa pantas kuberikan untukmu.
Cinta yang kuberikan tak akan cukup membalas cintamu.
Kasih yang kupersembahkan tak akan cukup membalas kasihmu.
Lalu apa?
Haruskah aku menanyakannya padamu, wahai pemberi pendar kasih sepanjang masa?
Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com”







.jpg)
