Sabtu, 31 Januari 2015

Pendar Kasih Sepanjang Masa

Gemericik air yang terdengar sebelum matahari menampakkan ronanya seakan menjadi rutinitas harian telinga mungilku. Suara itu seolah sedang memperlihatkan berapa alarm semangat telah menyala di dada Ibuku. Alarm yang membuat tangannya selihai koki, terampil menyihir sayur, ikan dan daging segar menjadi hidangan lezat bagi keluarga kecilnya. Keluarga kecil yang kini tak lagi lengkap setelah kepergian Abah dua tahun silam. Keluarga kecil yang kini hanya terdiri dari seorang Ibu dan empat orang anaknya. Keluarga kecil yang diberkahi dengan Ibu sekaligus ayah pengganti yang begitu luar biasa.
Luar biasa? Ya! Bahkan sesungguhnya dua kata itu belum mampu menggambarkan Ibuku. Ibuku lebih dari luar biasa. Bagaimana tidak, pernahkah kau membayangkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang bahkan tidak memiliki gaji sendiri, harus dihadapkan pada kenyataan pahit kehilangan suami sedangkan engkau memiliki kewajiban menghidupi empat orang anak yang masih haus pengetahuan?
Bahkan membayangkannya saja dapat membuatmu sesak nafas bukan?
Tapi itulah kehidupan Ibuku. Ibu yang tidak cukup untuk sekedar dideskripsikan dengan dua kata tersebut.
Namun semua keterbatasan itu bukan penghalang bagi Ibu. Meskipun ia sendiri belum pernah mengenyam bangku kuliah, namun tekadnya begitu besar untuk membawa keempat anaknya menyandang gelar sarjana, magister, atau bahkan doktor.
Meski dengan tertatih-tatih Ibu mengumpulkan sekeping demi sekeping uang untuk membayar semua harapan itu.

Aku selalu bertanya-tanya apa yang dapat kuberikan sebagai imbalan atas 18 tahun penuh kasih dan cinta yang telah Ibu rajut dalam hidupku.

Apakah itu uang?

Apakah itu benda-benda mewah?

Bukan uang dengan nominal tinggi yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku tak mampu memberikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah dapat kukecap sesuap nasi.
Bukan gemerlap perhiasan emas dan perak yang dapat kusematkan pada jarimu, kulingkarkan di lehermu, atau kulukiskan di pergelangan tangan kurusmu Ibu, bukan. Ku tak mampu membelikanmu itu, karena bahkan hanya darimulah lembar rupiah itu mengisi kekosongan kantung laparku.
Bukan pakaian dari rumah mode terkemuka yang melekat di kulit orang-orang berada yang dapat kuberikan padamu Ibu, bukan. Ku bahkan tak mampu membawamu mencium manisnya aroma kemewahan itu.
Bukan hitam metalik mobil mewah yang dapat kuberikan padamu Ibu, sekali lagi bukan. Bahkan untuk memimpikannya saja aku malu. Terlalu banyak berkhayal! Justru itu yang akan terngiang dalam tidurku.
Dan pula bukan puisi cinta menyentuh hati yang dapat kutulis untukmu Ibu, kau sudah melihat betapa buruknya usahaku. Puisi di hari ibu beberapa tahun silam itu sudah cukup untuk tidak diciptakan penerusnya.

Lalu bagaimana aku akan membalas cintamu ibu?
Akankah cintamu hanya akan menjadi bintang yang menjagaku dari kegelapan sementara aku hanya sanggup memandangnya?
Lalu bagaimana aku akan membalas kasihmu ibu?
Akankah kasihmu hanya akan menjadi denyut yang tak bisa ku lepas satu detikpun tanpanya? Sedang aku tak mampu membalas kehidupan yang ia berikan.
Lalu bagaimana aku akan membalas tiap tetes keringat yang engkau keluarkan untuk menyambung nyawa buah hatimu, yang tiap tetes itu seakan penuh dengan harapan besar agar dapat melihat mereka menjadi orang-orang berada, orang-orang terhormat, di dunia ataupun kelak di akhirat.

Aku tak punya apa-apa Ibu, sungguh tak ada apapun yang kurasa pantas kuberikan untukmu.
Cinta yang kuberikan tak akan cukup membalas cintamu.
Kasih yang kupersembahkan tak akan cukup membalas kasihmu.
Lalu apa?
Haruskah aku menanyakannya padamu, wahai pemberi pendar kasih sepanjang masa?


Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com
»»  READMORE...

Rabu, 21 Januari 2015

Finally... Poster Implementasi Nilai-Nilai BEM FKM UI 2015 is DONE!

Assalamualaikum blog walker yang hari ini mampir untuk baca post sayaa :)
Alhamdulillah berkah anak sholeha *amin*, di tahun baru 2015 ini, akhirnya ada kesempatan update postingan lagi, yeaaayyy! I bet you already miss me. Hehehe
Anyway, ada banyak banget yang mau ku share sama kalian tentang masa masa semester awal kuliah, dll, tapiii apadayaa, ku hanya makhluk kelelahan yang berusaha posting cuma buat pamer poster semi digital yang sudah kukerjain selama sekitar 9 jam, 2 jam untuk membuat sketsa dan 7 jam untuk digital coloringnya. Aduhaii bayangkan betapa capeknya hayati... tapi semua terbayar melihat transformasinya, wanna see? scroll down!
Ah, ngomong-ngomong mau tau ga kenapa gambar sketsa doang butuh 2 jam banget? Karena.... prosesnya kerap diselingi malas-malasan, gulung-gulung di kasur, main HP zzzz payah abis dah, ditambah lagi sama pikiran pendekku buat nebelin sketsa pakai spidol item, padahal nantinya diedit lagi di Paint Tool SAI -____-

BEFORE


AFTER


Gimanaaa? Bagus ga, buat ukuran perdana coloring pakai aplikasi itu? Bagus lah ya, kalo bilang enggak live kick dari blog nih! Wkwk gak deng, canda.
FYI, saya belajar pakai aplikasi tersebut dari kakak kelas SMA yang bikin tutorial gambar manga muslimah gitu deh di sini. Walaupun sejujurnya ku tak kenal dia but makasih banyak buat tutorialnya mbaaak, tanpamu posterku hitam putih belaka :))
Sebenernya mau manual coloring pakai pensil warna yang bisa jadi cat air juga itu loohh, tapi apa daya, ku gak punya, dan sayang buat ngeluarin duit ehehe. Tapi akhirnya dapat pengalaman baru dehh
Kapan-kapan ku mau posting tutorial digital coloring pakai Paint Tool SAI juga pakai versiku yaaa ^^

Karena capek banget ini mata, ga kuat ngetik lebih lama lagi, kita akhiri sampai disini saja, terimakasih sudah mampir!

Pesan Moral postingan ini :
Belajarlah untuk survive
*LOL

Bonus nih, on progressnya posterku :
*abaikan lirik lagunya, ku hanya punya lagu korea yang jadi OST drama bagus versiku


Dan ini, saya ngirim ini ke email BEM IM FKM UI 2015 sebelum kuganti sama yang atas :

tebak apa bedanya??
»»  READMORE...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...